Ekonomi
Islam Dimata Masyarakat
Assalamualaikum brur udah lama gak
ketemu lagi di postingan gua. Mau ngasih tau aja kemarin gua bareng kelompok
gua habis ada tugas buat wawancara dan survey mengenai ekonomi islam di
masyarakat. Jadi gua bareng kelompok gua pergi ke salah satu taman di kota
malang. Ada hal yang menarik dari tugas ini brur, gua pikir tugas beginian
harus sering-sering di lakuin tapi ya jangan sepi-sepi orang dan harus di
lakuin dengan adanya control langsung dari pihak yang lebih professional.
Alasan gua kenapa bilang gitu, gua berfikir dari prespektif masyarakat, mereka
lebih tertarik dengan hal-hal yang ramai dan menarik perhatian. Kalau survey
Cuma 3 orang saya pikir kurang efektif dan menarik. Hal yang pertama yang
membuat gua bilang gitu karna emang masyarakat Indonesia gak suka di kepoin
tapi suka kepo. Kebukti banget kemarin kami banyak di tolak sana sini kan sakit
wkwkw. Kalau di laksanakan bareng-bareng dan terorginir kan lebih enak kayak
pas saya sosialisasi bareng KSEI saya di kampus. kalau gak tau KSEI itu apa ya
googling toh bro masak tu kuota habis buat game aja.
Alasan diatas sebagai saran aja buat
kedepanya agar sebuah langkah sosialisasi yang diambil dapat berdampak langsung
ke masyarakat, kalau perlu sih sekalian di buatin ATM di tempat wkwkw saran
aja. Lansung aja ni brur kea pa aja si yang kami lakuin di taman untuk
mewawancarai dengan maksud menanamkan ekonomi islam. Pertama alasan kami datang
ke taman dekat pasar di daerah malang tepatnya di taman Merjosari kota Malang,
karna kami pikir daerah tersebut lebih banyak dikunjungi oleh masyarakat
menengah yang sedang refresing atau hanya duduk-duduk. Dugaan tim gua bener
brur disana jarang dijumpai kalangan menengah ke atas yang sedang menikmati
taman, kebanyakan didominasi oleh masyarakat sekitar taman yang masih termasuk
masyarakat pinggiran kota.
Langsung ke bagaimana proses kami ke
daerah tersebut, kami datang sekitar jam 9 pagi disana disaat kondisi tidak
begitu ramai hanya keluarga keluarga kecil yang menghabiskan matahari pagi
bersama. Hadeh kenapa jadi kayak novel, ini buka gaya penulisan gua. Jadi
langsung aja brur dengan kondisi dikejar waktu karna harus mengedit dan
sebagainya jadi kami langsung nyari siapa aja yang kayaknya bisa dan mau di
wawancarai. Namanya pake sample ngacak ya gini hasilnya sering di tolak dengan
alasan-alasan, ada yang berhijab diri dan tak mau di video,kakek-kakek sok cool
sampe ke ibu-ibu yang takut kalau di hipnotis. Anjay santai aja buk masih bukan
tanggal tua uang bulanan kami masih cukup buat beli lalapan 10.000-an di
malang.
Alhasil gua sama kelompok gua ketemu
sama keluarga sakinah mawadah warohmah yang lagi asik nyantai di gazebo
pinggir pasar eh pingir taman , soalnya pasarnya di gusur buat perut kapitalis.
Santai bos gua gak bakal bahas pengusuran pasar soalnya bakal buanyak banget
ini tulisan kalau bahas itu. Kalau penasaran ya banyakin diskusi jangan
banyakin nonton korea. Hadeh jadi ngelantur kan, oke balik lagi ke keluarga
kecil tadi, kenapa kecil ya anaknya Cuma ada 2, pokoknya keluarga KB banget
dah. Niatnya mau wawancara tentang pemahaman ekonomi islam tapi gua yang jadi
tukang juru video malah fokus ke anaknya yang
ya Allah imut kapan gua punya beginian wkwkw.
Orang kedua yang kami temuai agak
sedikit berbeda, sama-sama lagi bawa anak tapi dia lagi sendiri katanya lagi
nunggu suaminya. Nah yang satu ini anaknya lebih mengemesin lagi soalnya masih
10 bulan beh imut sadis. Oke langsung aja masuk ke obrolan pendek kami dengan
kedua narasumber kami ini brur. Narasumber pertama lebih menikmati obrolan kami
dengan santai dan mendengarkan dengan baik. Kami menanyakan apakah menegrti
tentang Ekonomi Islam secara umum. Beliau menjawab saya tau “ ekonomi islam itu
yang melarang riba kan”, ya bener sih emang itu yang sering dikeahui masyarakat
kebanyakan bahwa ekonomi islam ya anti riba selesai di situ. Ini menjadi
pekerjaan rumah besar termasuk bagi gua seorang mahasiswa ekonomi islam untuk
menyadarkan bahawa riba hanya bagian kecil dari pokok ekonomi islam. Kalau
menurut gua sih inti dari ekonomi islam adalah keadilan, keadilan di seluruh
aspek ekonomi dari sebuah pola pikir kejujuran dalam ber ekonomi.
Lanjut kami bertanya apakah ibuk
sudah memakai bank islam ? beliau menjawab “ saya masih belum memakainya “
jelas saya berfikir karna bank islam terkesan seperti bank konvesisonal karna
kebanyakan otak para pelakunya ya tetep Uang, sehingga akad-akad terkesan di
permainkan. Masalah terbesar di masyarakat adalah adanya paradikma dan berharap
bahwa dengan adanya bank islam maka akan lebih murah nah ini yang keliru. Ekonomi
islam mengajarkan tentang keadilan bukan keuntungan melimpah, ini yang perlu di
garis bawahi. Kemudian kami bertanya mengenai apakah akan mengunakan bank islam
kedepanya, sang ibu hanya tersenyum dan mengiyakan namun tidak saat ini.
Narasumber kedua kami sedikit
berbeda dengan narasumber pertama, yang sau ini sedikit cuek dan gak ada
interaksi yang menarik sama sekali. Agak kesel sih brur ya gimana coba orang
lagi di ajak ngobrol jawabnya Cuma iya sama engga aja, sama sekali kali jawab
tidak tau hadeh kan kampret. Intinya sama mereka tidak mengenal ekonomi islam
atau hanya mengerti sebatas riba saja. Pembahasan dengan naasumber kedua tidak
berjalan lama ya karna tidak ada feedback dari narasumber dan terkesan ingin
segara mengakhiri diskusi kami.
Pendapat saya dari wawancara ini
walaupun hanya dua sample tetapi gua ngelihat nih ada hal-hal yang menarik
disini brur. Sesuatu yang menarik disini adalah kondisi dimana masyarakat di
Indonesia lebih menyukai hal-hal yang membuat kenyamanan sehingga sulit memilih
bank islam secara khusus. Jelas lah brur lihat brapa jumlah atm dan bank islam
di kota malang, bisa di hitung dengan jari kita disbanding dengan bank
konvensional. Kemudian ada indikasi disini sangat minimnya sosialisasi dan
pemahaman di masyarakat tentang ekonomi islam, ya kayak umat islam di Indonesia
hanya paham tentang ibadah saja tidak muamalah. Jelas kan saat kita sd sampai
SMA mana ada pemahaman pelajaran agama tentang ekonomi dan muamalah islam,
paling mentok dengan sejarah nabi.
Kondisi ini menjadi sebuah semangat
dan sentilan bagi kita semua yang paham dan wajib untuk menyadarkan seluruh
umat, ya gak usah umat lah minimal ortu lo di rumah aja deh sama saudara deket.
Semangat ber ekonomi islam boos. Yakin usaha sampai semua akan ada hasilnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar